Cari

Catatan Kehidupan

Taqia Saffan Family Wanna Be

Penulis

Shuffah Nur Hijrah

Taqia wanna be.. di antaranya ingin bisa menjadi Istri yang taqia, anak yang taqia, dan ibu yang taqia :)

Ibu

Nasihat Ustadzah Aan Rohana, MAg..

Tugas Ibu :
1. Tanggung jawab terhadap anaknya
2. Mendirikan shalat malam
3. Mengkhatamkan quran setiap bulan 
4. Pandai menjaga keikhlasan dan sabar
5. Qudwah Hasanah (menjadi contoh) dan doa
6. Memperluas wawasan
‎‎
Anak akan melihat pengorbanan seorang ibu, jd tanpa disuruh si anak akan mendahulukan ibunya.

Allah akan murka kpd ibu yg tdk mendidik anaknya utk dekat dg Qur’an, dan Allah.

Al A”raf  172.‎
Tanggung jawab ibu sangat besar utk mengembalikan anaknya dlm keadaan suci.

Ibu berfungsi menyiapkan jalan anak menuji surga.

Landasan mendidik anak adalah harus berasal dr Allah. Oleh krn itu jangan jauhkan anak dr qur’an.

Terlambat mengajari anak membaca qur’an sejak SD atau mengajarkan anak menghafal qur’an sejak SD. Krn seharusnya kita mengisi miliyaran sel otak anak dg qur’an sejak dalam kandungan.

Usia anak TK sdh seharusnya sdh sholat di masjid. 

Hidup adalah ujian utk menjadi yg terbaik. Al Mulk….

Ibu tdk pantas tidur 8 jam sehari. Sepertiga malam terakhir bangun utk mohon ampun pd Allah dan menyiapkan anak2nya. 

Al Muzammil …
Ibu yg bangun sholat malam dan baca qur’an sebelum Shubuh. diberikan kemampuan rohani utk melaksanakan apa yg diperintahkam Allah.

Bila kita ingin menjd ibu dr anak2 yg besar maka usaha ibu jg harus lebih besar.

Kebaikan diberikan : kata2, langkah,nasehat yg berbobot.

Kita hrs menjd ibu yg berbobot memberikan daya tarik dihadapan Allah agar Allah memberikan kemampuan pd kita tanpa banyak bicara ini itu kpd anak. Bicara sedikit tp sampai ke hati anak.

Anak usia 4 th harus bisa baca Qur’an. Setahun selesai bila tiap hari diajarkan.

Ketika ibu telah berkeinginan dg kuat maka Allah akan berikan jalan.

Imam Syafii dr Mesir diletakkan ibunya di Mekkah pd usia 4 th. Anak hrs dimotivasi utk ibu mustajab. Berhati2 bila berkata2 apabila menghadapi anak yg tidak patuh. Krn kata2 buruk yg diucapkan pd anak berulang2 akan menjadi kepribadiannya.

Mendidik anak hrs dg cinta, tulus tdk berharap apa2 dr anak.
Marah membuat tubuh stress 6 jam.

1. Bertanggung jawab
2. Sholat malam
3. Khatam qur’an setiap bulan, satu hari 1 juz

Ibu adalah teladan selama 24 jam. Bgaimana membuat anak cinta qur’an kalau ibunya tdk membaca qur’an.
‎‎
Orang yg selalu memperdengarkan quran di rumahnya :
1. Akan memberikan banyak kebaikan di dalam rumah (termasuk penghuni di dalamnya)
2. Dilapangkan jiwa keluarganya (dijauhkan dari emotional sehingga menjadi keluaga samara)‎
3. Dihadiri oleh para malaikat 
4. Dihindari dari syaitan

Sebelum mendidik anak berdzikir dan beristighfar. Mendidik dg kacamata iman bukan nafsu.

Surat 8 : 2
Bila disebut nama Allah akan bergetar hatinya.

Ya Allah tampakkanlah kpd kami kebenaran dg benar, mampu mengikuti kebenaran itu, tampakkanlah yg batil itu batil dan berikan kemampuan utk menjauhinya.

Bangunkan anak utk sholat Shubuh. Basahi matanya, gendong bila perlu, siapkan sajadahnya.‎

Lakukan yg terdepan. Ketika anak lain baru bangun. Anak kita sdh sholat, baca qur’an.‎

Banyak beristighfar utk membersihkan diri agar cahaya Allah dpt masuk. Krn apabila kotor cahaya tdk dpt masuk.

Surat 32 ayat 24-
dan kami jadikan diantara mereka para pemimpin ,
Ibu yang akan mencetak anak2 ‘besar’ adalah yg sbb :
1. Selalu mencari Hidayah dalam perintah Allah ( AL quran dan sunnah  sbg pedoman hidup)
2. Bersikap sabar terus menerus sampai menutup mata (3:146-148)‎
3. Yakin kepada ayat2 Allah
4, siap berkorban dan berjuang‎
Menjadi ibu yg sabar 32:24.
Sabar menjd syarat ortu mencetak generasi pemimpin. Ibu yg emosi cenderung anaknya sulit diatur.‎

Ciri sabar : 
-Tdk gampang menyerah lemah semangat.
-Tidak lemah fisik
Jgn mengucapkan kata2 yg menurunkan idola anak2 kita thd kita. Byk istighfar utk mendpt kekuatan   11:52. Baca lahawla wala quwwata illaa billah. agar lbh kuat. Jgn mengeluh krn dpt mengurangi atau dihapus pahala kita.

Baca subhanallah 33, hamdalah 33, takbir 33 sebelum tidur.

Bila minta tlg kpd anak katakan dg alasan yg baik. Bunda mau ngaji bisa bantu … spy bunda dpt pahala baca qur’an. Janganlah mengungkit pekerjaan serta kelelahan kpd anak dan suami. Lakukan dg ikhlas agar bertambah pahala jihad sbg ibu.

Jgn katakan sesuatu yg tidak baik didepan anak2 kita yg akan menurunkan rasa idola anak kpd kita, 
Hendaknya Banyak beristighfar bila lelah, Allah akan menambah kekuatan kita
‎‎
Jangan buka kelemahan kita dlm keluarga kita. Misal kekurangan suami jgn dibuka ke mertua atau ipar2. membuka kelemahan tanda tidak sabar.

Tidak mudah putus asa. Bila berat menghadapi anak, minta kpd Allah. Minta kpd yg punya. ALLAH mampu mengembalikan apapun dg kun fayakun.
Jangan memvonis mengatai anak saat anak msh kecil.
Ibu yg terdzolimi mustajab.
Sholat hajat dg khusu’, shaum senin kamis, shaum Nabi Daud.

Bila Allah sdh mengubahnya kita akan terkejut2.

Anak investasi akhirat.
Derajat yg paling tinggi akan dirasakan oleh orang tua bukan anak. Bila sdh meninggal maka mengharapkan doa dr anak yg sholeh. 

Jangan memvonis anak sebelum dewasa sebelum menutup mata. Terus berusaha.

Istighfar….
Jangan salahkan anak2… introspeksi diri. Anak dilahirkan fitrah.

Ibnu Hajar, anaknya pesantren 5th tdk menghasilkan apa2, ortu tdk mempersoalkan sekolahnya. Setelah 8th tdk bisa dikembangkan lagi. Si anak dipulangkan. Di jalan pulang melihat batu yg ditetesi air. Tergerak hatinya kembali ke pesantren dan belajar dg sungguh2… akhirnya berhasil menjadi ulama penulis besar.

Yakin kpd ayat2 Allah. Jangan ragu sedikitpun. 

2:124

Syarat ibu mencetak generasi qur’an
1. Berpedoman pd hukum Allah
2. Sabar
3. Yakin kpd ayat2 Allah
4. Banyak berkorban. 
Nabi Ibrahim melaksanakan semua perintah dg sempurna.
Ujian harus dilalui dg sempurna.
Utk menjadi ibu yg mampu mencetak generasi Qur’ani hrs lulus semua ujian.

Rasulullah memaafkan budaknya sampai 70 kali dalam sehari.

Taat kpd suami dan mengakui hak2nya adalah jihad.
Gagal tdk jadi mujahidah krn tdk sabar, tdk ikhlas.
Gampang dirusak keikhlasan oleh anak kecil. Ibunya tdk cerdas.

5. Pandai menjaga keikhlasan
Ikhlas adalah amal hati yg berat. 
Ikhlas ada 3 : sebelum beramal, ketika beramal, setelah beramal.
Ibu hrs meninggalkan hal2 yg tdk berguna. Tdk asal berbicara.
Qaf 50: 18. Setiap kata dicatat malaikat. 

Ciri Ikhlas :
1.Tdk bertambah amalnya ketika dipuji
2. Tdk berkurang amalnya ketika dicaci
3. Istiqomah diwaktu ramai dan sepi

Ikhlas dan sabar hrs disempurnakan dlm mendidik anak2.

Faktor sukses dr mendidik anak dan contoh yg baik dan doa yg tdk pernah putus.

Ibu hrs memiliki pengetahuan yg luas agar mampu mengimbangi tumbuh kembang anak mengikuti kemajuan yg ada..
———————–
Bgm keluarga kita?

Iklan

💧Manusia Yang Selalu Didoakan Kebaikan oleh Malaikat

Terkadang kita pernah merasa jauh dr Allah. Terlebih disaat terjerumus dalam dosa perasaan untuk lebih jauh lagi sangat terasa sekali. Tetapi janganlah kita berputus asa untuk mendapatkan rohmah dan kasih sayang dari Allah. Ada bbrp perbuatan yang mendatangkan kebaikan yaitu didoakan kebaikan oleh Malaikat. Dan hendaknya kita menjauhi perbuatan yang mengakibatkan doa kejelekan atau laknat dari Malaikat. 
 
Diantara mereka itu :

🍂1. Orang yang makan sahur.
Dari Abdullah bin Umar, Rasulullah bersabda :
“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada orang2 yang makan sahur”.
(HR. Ibnu Hibban dan Ath Thabrani, dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih At Targhiib I/519)

🍂2. Orang yang mengunjungi saudaranya seiman karena Allah dan menjenguk orang sakit.

Dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda :
“Siapa yang menjenguk orang sakit atau mengunjungi suadaranya seiman, maka ada seorang yang menyeru dari langit: kamu adalah org baik, dan langkahmu juga baik dan engkau berhak menempati satu tempat di surga.” (HR. Al-Tirmidzi, dishahihkan Al-Albani dalam Shahih al-Targhib, 2578)

Dari ‘Ali bin Abi Thalib, Rasulullah bersabda :
“Tidaklah seorang mukmin menjenguk saudaranya kecuali Allah akan mengutus 70.000 malaikat untuknya yang akan bershalawat kepadanya di waktu siang kapan saja hingga sore dan di waktu malam kapan saja hingga shubuh” (HR Ahmad 754, dishohihkan Syaikh Ahmad Syakir)

🍂3. Seseorang yang mengajarkan kebaikan kepada orang lain.

Dari Abu Umamah Al Bahily, Rasulullah bersabda :
“Keutamaan seorang alim atas seorang ahli ibadah bagaikan keutamaanku atas seorang yang paling rendah diantara kalian. Sesungguhnya penghuni langit dan bumi, bahkan semut yang di dalam lubangnya dan bahkan ikan, semuanya bershalawat kepada orang yang mengajarkan kebaikan kepada orang lain”(HR Tirmidzy dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani II/343)

🍂4. Orang yang mendatangi majelis Ilmu dan duduk dalam majelisnya.

Rasulullah bersabda :
“Tidaklah duduk suatu kaum, kemudian mereka berzikir kepada Allah ‘Azza wa Jalla dalam duduknya hingga mereka berdiri, melainkan dikatakan (oleh malaikat) kepada mereka : Berdirilah kalian, sesungguhnya Allah telah mengampuni dosa2 kalian dan keburukan2 kalian pun telah diganti dengan berbagai kebaikan.”(HR. ath-Thabrani; disohikan Al-Albany dalam Shahiihul Jami’)

Rasulullah bersabda :
“Sungguh Para Malaikat merendahkan sayapnya sebagai keridloan kepada penuntut ilmu” [HR Ahmad, Abu Dawud,At-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ibnu Hibban disohihkan Al-Albany).

Wallahu a’lam

📚Sumber: Tafsir Ibnu Katsir;Al-Mausu’ah Al-Hadits.

Granada, I’m in Love… <3

Kalo beberapa orang bilang Paris, I’m in Love, kalo saya ga cuma itu.. Menurut saya kota Granada lebih bikin saya semakin cinta sama paksuami, eh, maksudnya Granada lebih bikin saya jatuh cinta sama kota ini 😀  Alhamdulillah berawal dari paksuami yang liat tiket promo Milan-Malaga yang dapet sekitar 20 Euro, kami bisa sampai di bumi Allah Andalusia itu.  Walaupun pada akhirnya perjalanannya jadi cukup panjang  yaitu Berlin-Salzburg-Munchen-Milan-Malaga-Granada-Madrid-Berlin jadi costnya pun jadi lumayan,,,tapi tetep bersyukur.. Alhamdulillah bisa ngerasain merinding pas liat bangunan-bangunan peninggalan Islam karena jadi ngebayangin orang-orang Islam yang dulu memperjuangkan kalimat Lailahaillallah di bumi Andalusia di mana agama Islam minoritas dan ngerasain betapa senangnya saat bisa ngeliat orang bule Spanyol muslim melakukan akad nikah sama seorang perempuan yang baru saja mualaf sekitar seminggu lalu, terus juga disapa orang bule Perancis di tengah jalan di Granada dan disapa orang bule di security check Bandara Madrid “Assalamu’alaikum” di negara-negara asing itu yang minim pemeluk Islamnya.. MasyaAllah.. Rasanya merinding ngeliat hal-hal yang gak disangka itu nyata di depan kepala sendiri 😀

Untuk mencapai Granada, saya dan suami mendarat di Malaga, sebuah kota yang terletak di selatan Spanyol.  Ada kesan tersendiri saat mau landing di Malaga airport..  Pesawat yang kami naiki membuat  penumpang terpukau sampai-sampai penumpang bertepuk tangan saat pesawat landing.. Apa yang membuat penumpang termasuk saya terpukau? Kalau dilihat di peta, rasanya kita bisa menemukan kota Malaga yang berada di ujung bawah negara Spanyol.. Ya, kota ini berbatasan langsung dengan laut..  Pesawat kami terbang dari arah Milan ke Malaga.. Beberapa saat sebelum landing, kami dibuat terpukau awalnya dengan pemandangan Malaga yang cantik dari ketinggian.. Bentuk daratan yang berbukit-bukit, nuansa warna coklatnya tanah dan putihnya atap bangunan bercampur indah menjadi satu.. Lalu, pesawat yang terbang dari arah daratan menuju ujung laut ternyata tak berhenti begitu saja.  Pesawat ini malah melaju terus ke laut.  Lalu kami mendarat di mana? Tak lama kemudian, pesawat berputar arah di atas laut.  Ya, berputar untuk menuju airport yang ada di daratan.  MasyaAllah, pemandangan dan perasaan saat itu begitu indah dan menyenangkan..  Rasanya perasaan yang saya rasakan juga dirasakan penumpang lainnya.  Jadilah para penumpang bertepuk tangan saat pesawat landing 😀

Di Malaga, kami mengunjungi benteng Alcazaba..  Kalau tidak salah, dahulu benteng ini adalah tempat para tentara muslim berlindung di kota ini..  Di beberapa spot bagian atas benteng ini,  kita bisa melihat indahnya pemandangan kota Malaga .. indahnya daratan kota ini dan juga yang membuat semakin cantik adalah biru dan bersihnya laut Malaga 🙂

Sorenya kami berangkat menuju Granada, kota tujuan utama perjalanan kami kali ini.  Alhambra, adalah objek tujuan kami di Granada.  Tak hanya kami, rasanya semua orang yang berwisata ke Granada menjadikan Alhambra sebagai objek wisata utama.  Ya, Alhambra adalah sebuah objek wisata terkenal yang bersejarah di kota Granada.  Sebuah objek wisata yang menyimpan sejarah peradaban Islam di bumi Andalusia ini.  Di dalamnya terdapat beberapa bangunan peninggalan Islam.

20150826_090216[1]

Hampir seluruh dinding di bangunan Alhambra ini memiliki ukiran “Laailahaillallah”.

20150826_090052[1]

Ya, ukiran yang bermakna sangat dalam ini menghiasi dinding-dinding bangunan.  Terlihat tua, indah, dan mempesona.. Membuat saya merinding..  merenung membayangkan perjuangan saudara-saudara muslim jaman dulu yang memperjuangkan Islam di tempat ini..

Alhambra ini cukup luas.. Di dalamnya saat ini memang tidak hanya berisikan bangunan yang murni peninggalan Islam, tapi juga sudah ada sebagian bangunan yang ‘ditambah’ oleh pemerintah Spanyol..  Juga ada tanda salib di dekat gerbang masuk.. Hmm, Subhanallah.. Miris sebetulnya melihat hal ini,, mengingat kekalahan Islam di Spanyol.. Perjalanan ke Granada ini meninggalkan bekas tersendiri untuk saya dan suami.. Membuat kami semangat untuk menjadi bagian dari peninggal warisan peradaban Islam.. Membuat kami semangat belajar sejarah Islam.. Suami sampe membeli buku Homage to Al-Andalus “The Rise and Fall of Islamic Spain” sebelum pulang.. Beliau penasaran tentang sejarah kemenangan dan keruntuhan Islam di Andalusia saat itu..

Ya, sesuatu di dunia ini akan menjadi sejarah .. “Leave a legacy” , semboyan yang artinya meninggalkan warisan itu seharusnya dimiliki oleh setiap muslim di bumi ini ..  Meninggalkan banyak kebermanfaatan sebagai bekal amal jariyah untuk kehidupan akhirat kelak..

Orang Tua Digital

Oleh: Mohammad Fauzil Adhim

Suatu malam di stasiun kereta api Tugu, Yogyakarta. Seorang ibu sedang menebar senyumnya, entah dengan siapa. Tapi bukan kepada orang di sekelilingnya, bukan pula kepada anaknya yang masih balita di sampingnya. Tampak sangat asyik. Disela lorong sempit, suaminya duduk hampir berhadapan, tepatnya sejajar dengan anak lelaki mereka, juga tengah asyik dengan gadget ukuran cukup lebar di tangannya. Mungkinkah suami-istri sedang itu asyik bercanda melalui gadget? Sepertinya tidak. Ekspresi mereka menunjukkan keasyikan yang berbeda.

Anak lelakinya sesekali merajuk meminta perhatian, tetapi segera ditepis oleh ibunya, bahkan kadang agak ketus. Anak itu masih berusaha merebut perhatian ibunya, tapi tetap gagal. Lalu ia mencoba lagi meraih perhatian ayahnya. Tetap sama: gagal. Beberapa saat kemudian ibunya tiba-tiba dengan wajah penuh semangat berbicara kepada anaknya, meminta berdiri, lalu berpose sejenak untuk diambil gambarnya melalui gadget. Belum puas, sekali lagi anaknya diminta bergaya. Senyum lebar merekah dari keduanya. Tetapi sesudahnya, ibu itu kembali tenggelam dengan gadegtnya, membiarkan anak lapar perhatian.

Tak kehilangan akal, anak ini lalu menendang trolley bag miliknya. Jatuh. Ibunya segera merenggut tangannya dan memelototinya dengan marah. Anak laki-laki itu segera menangis, menunjukkan pemberontakannya. Gagal mendiamkan anaknya, meski upayanya belum seberapa, ibu itu segera meminta suaminya turun tangan. Tak kalah galak, ayah anak lelaki yang “malang” itu segera menampakkan kemarahan dan memaksanya diam. Tapi anak tetap menangis. Berontak. Anak itu baru diam sesudah jurus ancaman meninggalkan anak itu sendirian di stasiun, dilancarkan ayahnya.

Pemandangan menyedihkan. Inilah orangtua digital yang luar biasa sibuk, bukan karena banyaknya urusan, tetapi karena banyaknya percakapan di sosial media yang mereka ikuti. Orangtua memperoleh keasyikan dengan gadegtnya, tetapi anaknya menderita kelaparan perhatian.

Diam-diam saya bertanya, seperti apakah saya? Jangan-jangan saya pun telah menjadi orangtua digital yang menganggap semua persoalan dapat diselesaikan dengan up-date status twitter maupun facebook. Mesra di media sosial, tapi kering dalam berbincang tatap muka. Penuh jempol di laman facebook, tetapi yang bergerak hanya jari tengah dan telunjuk. Bukan jempolnya sendiri.

Pada anak-anak balita, mereka tak dapat mengimbangi dengan aktivitas internet. Tetapi mereka pun mulai belajar menikmati dunianya sendiri dengan gadget, game dan tontonan sembari pelahan-lahan belajar menganggap kehadiran orangtua sebagai gangguan. Di saat seperti itu, masihkah kita berharap tutur kata kita akan mereka dengar sepenuh hati?

Astaghfirullahal ‘adzim. Kepada Allah Ta’ala saya memohon atas lalai, lengah dan teledor saya terhadap anak-anak dan keluarga.

Tapi bukankah kita tidak dapat mengelak dari kehidupan digital? Emm… Mungkin ya, mungkin tidak. Berkenaan dengan ini, ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan:

Pseudo-Attachment: Seakan Dekat, tapi Tak Akrab 

Jika anak aktif di social media, orangtua memang sebaiknya berteman ataupun saling menjadi follower. Tetapi ini saja tidak cukup. Orangtua tetap perlu memperhatikan tingkat konsumsi anak terhadap social-media. Merespon status anak di social media juga sangat bagus, tetapi jika tidak mengimbangi dengan aktivitas nir-luring (off line) yang baik, kita dapat terjebak dalam pseudo-attachment (kedekatan semu), seakan saling dekat, padahal masing-masing sibuk dengan dunianya sendiri; sibuk narsis. Orangtua merasa dekat dengan anak, padahal mereka sebenarnya belum benar-benar saling mengenal.

Privasi atau Alienasi: Tetap Harus Ada Kontrol Orangtua 

Salah satu kata sakti di era digital ini adalah privasi. Terlebih sejumlah gadget memang menyediakan fitur yang memberikan privasi penuh. Tetapi satu hal yang harus kita ingat, memberi pupuk (padahal ini sangat bermanfaat) sebelum waktunya justru menjadikan tanaman mati. Bukan sekedar tidak berkembang. Begitu pun privasi, tanpa kendali yang baik dari orangtua di satu sisi, dan kepedulian serta empati yang kuat pada diri anak, member privasi penuh justru menjadi pintu awal alienasi. Anak terasing secara sosial, selfish dan egois. Jika ini terjadi, kecakapan sosial anak akan tumpul.

Apakah ini berarti kita tidak memberikan privasi? Kita tetap memberikannya sesuai tuntunan agama dengan takaran yang tepat. Kita memberikannya untuk hal-hal tertentu, misal berkenaan dengan penjagaan aurat, tetapi tidak membiarkan anak tenggelam dengan dunianya sendiri atas nama privasi. Soal gadget yang berkemampuan untuk melakukan aktivitas online misalnya, kita perlu mengingat bahwa anak perlu bekal memadai berkait etika berinternet dan memahami betul apa yang perlu dilakukan untuk memperoleh manfaat dari gadget. Bukan sekedar memperturutkan keasyikan.

Privasi juga hanya akan baik apabila sudah tepat waktunya untuk memberikan. Ibarat api. Jika anak belum dapat cukup matang, jangan biarkan anak bermain-main api sendirian.

Nah.

Mesin Pembunuh Itu Bernama Game Online

Jangan kaget. Saya harus menyebut dengan ungkapan menyeramkan karena memang sangat banyak kasus yang saya temukan. Gegara game online, anak yang tinggal setengah juz saja sudah hafal Al-Qur’an penuh 30 juz, akhirnya terdampak menjadi pecandu game online. Sanggup bermain terus-menerus hingga lebih dari 2 hari 2 malam tanpa istirahat. Mereka berhenti bermain hanya karena badannya sudah tidak kuat lagi menyanggah keinginannya. Berhenti karena tertidur. Ini berarti, anak yang telah kecanduan game online kelas berat hampir tak melakukan aktivitas lain di luar bermain game. Ini sangat mengerikan.

Ada pula yang sampai melakukan penipuan demi membeli level bermain game online yang lebih tinggi. Ini semua tentu tidak tiba-tiba. Ada tahapnya. Nah, yang perlu kita jaga adalah, anak yang belum kenal game online jangan sampai diantarkan ke pintu-pintunya semata karena temannya banyak yang bermain game online. Tiap orangtua punya arah (termasuk yang tidak tahu harus kemana). Kita harus mengendalikan arah pendidikan anak kita.

 
Time to Go Online: Kapan Kita Beri Kesempatan Anak Berselancar 

Boleh saja anak melakukan aktivitas online, tetapi kita perlu memperhatikan beberapa hal. Pertama, apakah budaya belajarnya telah tertanam kuat. Budaya belajar, bukan sekedar kebiasaan belajar. Jika budaya belajar belum mereka miliki, maka kegiatan online akan mematikan hingga ke akar-akarnya. Kedua, apakah anak telah memahami betul etika dunia maya serta manfaat apa yang akan mereka dapatkan. Jika mereka memiliki arah yang jelas, internet dapat menjadi fasilitas yang sangat bermanfaat. Tetapi jika tidak, mereka akan terkalahkan oleh internet dan tenggelam di dalamnya, termasuk tenggelam dalam aktivitas pacaran online. Ketiga, apakah anak memiliki kecakapan sosial yang memadai dan memiliki ikatan sosial yang baik dengan teman-teman maupun keluarga. Jika ini tidak ada, kita perlu persiapkan anak agar memiliki lingkungan hubungan sosial yang baik terlebih dahulu agar kelak tidak teralienasi dari kehidupan sosial atau bahkan kehidupan nyata pada tingkat minimal.

Usia berapa sebaiknya anak boleh melakukan kegiatan online? Jika benar-benar sampai pada tingkat kebutuhan, anak dapat memiliki alamat email dan kegiatan internet untuk mencari pengetahuan di usia sekitar 10 tahun. Syaratnya, tiga hal tadi telah ada. 

Wallahu a’lam bish-shawab.

Anak dengan Sindrom Tamu

“Salim.., aduh nak kamu kok gitu sih…kamu kan tahu kalau mama sedang ada tamu. Jangan ganggu mama dulu dong nak. Masuk ke dalam dulu ya…”. Si anak bukan malah masuk ke dalam, justeru tingkahnya semakin menjadi-jadi,”Ma, aku boleh minta kuenya gak? “.
“Aduh…kamu ini…di dalam kan ada….sudah mama sediakan buat kamu”. “Tapi aku maunya yang ini ma…”, sambil tangannya mengambil kue yang  di hidangkan.

Bunda ayah…
Pernah tidak bunda ayah merasa kesal sama si kecil karena berbagai polahnya justru pada saat bunda dan ayah kedatangan tamu ? Ada yang “ngelendotin” bunda ayah sehingga susah untuk berkonsentrasi dalam obrolan. Ada yang ngambilin kue yang di sajikan padahal di dalam sudah di sediakan untuk dia. Ada yang merengek-rengek minta sesuatu seolah tidak bisa di tunda. Sampai terkadang bunda ayah harus menariknya ke dalam dan memberikan sedikit ancaman, “Awas ya, sekali lagi kamu gangguin mama, mama gak akan beliin lagi coklat kesukaan kamu”. Keluar juga akhirnya jurus pamungkas untuk mengakhiri perseteruan di ruang tamu. Si kecil terdiam dengan wajah tertekuk.

Amannn….kita pun kembali ke ruang tamu dan meminta maaf, “Maaf ya bu, anak saya itu kalau ada tamu memang suka aneh-aneh kelakuannya”. Si tamu pun menimpali, “…yah…emang gitu bu, namanya juga anak-anak. Di mana-mana sama, anak-anak di rumah juga gitu”. Hmm…senasib dong…

Mengubah Tamu Sindrom Menjadi Potensi Positif Bagi Anak

Bunda ayah…
Baik kita sedang menerima tamu, atau pun pada saat kita bertamu, kita sering mengalami peristiwa seperti ini. Terutama di kalangan keluarga muda yang memiliki anak relatif masih kecil-kecil. Tanpa sadar terkadang kita kehilangan kesempatan emas untuk mengubah sebuah suasana yang kita anggap menyebalkan ini menjadi kuatnya hubungan emosional kita dengan anak. Atau bahkan kesempatan untuk membangun kekuatan interaksi sosial anak dan menumbuhkan rasa percaya dirinya.

Merupakan sebuah pemandangan yang menarik ketika Anas yang mendampingi Rasulullah sejak ia berusia sepuluh tahun itu bercerita,

عَنْ أَنَسٍ  أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَزُورُ الأَنْصَارَ ، وَيُسَلِّمُ عَلَى صِبْيَانِهِمْ ، وَيَمْسَحُ رُءُوسَهُمْ

Dari Anas, Rasulullah mengunjungi shahabat-shahabat Anshar, mengucapkan salam kepada anak-anak  mereka dan mengusap-usap kepala mereka.

Bunda ayah….
Anas menceritakan kepada kita sebuah peristiwa di mana saat itu Nabi Shalallahu’alaihi wasallam mengunjungi para shahabat Anshar. Yang sangat menarik adalah fokus cerita Anas itu bukan pada kunjungan Rasulullah  kepada para shahabat Anshar tapi ia justeru menyoroti sebuah kejadian antara Rasulullah dengan anak- anak mereka.

وَيُسَلِّمُ عَلَى صِبْيَانِهِمْ ، وَيَمْسَحُ رُءُوسَهُمْ

“Mengucapkan salam kepada anak-anak  mereka dan mengusap-usap kepala mereka.”

Ada yang Terlewatkan

Bunda Ayah…
Ada yang seringkali terlewatkan oleh kita ketika bertamu. Ketika kita mengunjungi sahabat atau kolega kita. Pada saat di sana kita temui ada anak-anak, kita sering melewatkan mereka. Fokus kita hanya kepada teman kita, hanya kepada urusan kita dan ini lah pertanyaan kita kepada mereka, “Papanya ada dik ?”. Bahkan salam dan sapaan sederhana pun sering tidak kita berikan kepada mereka.

Muhammad itu seorang Rasul, pemimpin tertinggi  kaum muslimin, begitu banyak urusan umat yang ia harus selesaikan. Tapi ketika ia bertamu ke para shahabat Anshar, urusan penting itu tidak membuat perhatian terhadapa anak-anak mereka terlewatkan. Mengucapkan salam kepada mereka dan memberik sentuhan usapan di kepala mereka bukanlah merupakan sesuatu yang membuang-buang waktu. Tapi Rasulullah tahu betul bahwa ucapan salam dan usapan itu akan memberikan efek dan kesan yang luar biasa terhadap mereka.

Bukankah dalam memberikan salam Rasulullah memberikan kepada kita sebuah kaidah,

يُسَلِّمُ الصَّغِيْرُ عَلَى الْكَبِيْرِ، وَالْمَارُّ عَلَى الْقَاعِدِ، وَالْقَلِيْلُ عَلَى الْكَثِيْرِ

“(Hendaklah) yang lebih muda memberi salam kepada yang tua, yang berjalan memberi salam kepada yang duduk, dan yang sedikit kepada yang banyak.” (Hadits shohih. Diriwayatkan oleh al-Bukhori, no. 6231).

“Yang muda memberi salam lebih dulu kepada yang tua”. Untuk anak-anak ternyata Rasulullah tidak demikian, Rasulullah memposisikan dirinya sebagai seorang guru yang sedang memberikan contoh dalam proses pembelajaran kepada mereka. Rasulullah pun mengucapkan salam lebih dulu kepada anak-anak Anshar yang ia temui. Lalu Rasulullah mengusap-usap kepala mereka. Abdulllah bin Ja’far bahkan sangat ingat jumlah bilangan usapan pada saat Rasulullah mengusap-usap kepalanya.

وعن عبد الله بن جعفر – رَضِيَ اللهُ عَنْهُما- قال: مسح رسول الله -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّمَ- بيده على رأسي، قال: أظنه قال ثلاثاً، فلما مسح قال: (اللهم اخلف جعفراً في ولده).  أخرجه الحاكم في المستدرك،  وقال الذهبي: صحيح

Dari Abdullah bin Ja’far Radhiallahu’anhuma, Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam mengusap rambutku dengan tangannya, lalu ia di tanya,”Berapa kali?”, ia menjawab, “Tiga Kali”. Setelah itu ia berdo’a, “Ya Allah! Tinggalkan (kebaikan-kebaikan) Ja`far pada anaknya (Abdillah)”. (Di keluarkan oleh Al Hakim dalam mustadraknya, berkata Dzahabi Hadits ini Shohih.)

Inilah Kesempatan itu ?

Bunda ayah…
Ya..memang ada yang terlewatkan oleh kita pada saat kita bertamu atau menerima tamu. Sebuah perhatian dan sedikit sentuhan kepada anak.
Bunda ayah, sungguh Rasulullah memberikan contoh yang luar biasa. Ia datang, menyapa anak-anak lebih dahulu, mengucapkan salam kepada mereka, mengusap-usap kepala mereka. Setelah semua urusan itu selesai, baru Rasulullah berurusan dengan para Shahabatnya. Kenapa ketika kita kehadiran seorang tamu dan melihat anak kita mencoba mencari perhatian kita, tidak kita selesaikan dulu urusan mereka ? Bunda ayah, anak kita cuma ingin mengetahui siapa tamu bunda dan ayahnya. Ia ingin secuil perhatian. Akan lebih bijak ketika dia muncul kita memanggil dia, “Kemari nak….sini Mama kenalkan sama teman mama. Om tante….ini anak sholeh mau kenalan sama om dan tante…ayo nak…beri ucapan salam ..ke om Ilham dan tante Aisyah..”.

Bukankah kita yang bertamu akan lebih menarik kalau menyapa mereka, “Subhanallah, Assalaamu’alaikum warahmatullah wabarakaatuh, wah…anak sholeh yang ganteng ini siapa namanya…sini nak salaman dulu dong….”. Setelah bersalaman sambil mengusap kepalanya, “Nama mu siapa nak ? Udah sekolah belum..?”…dan seterusnya….

Bunda ayah…kalau itu yang kita lakukan pada saat kita bertamu atau menerima tamu, maka kita akan melihat sebuah efek yang sangat luar biasa….insya-Allah ia tidak akan mengganggu kita dan ia akan kembali asik dengan aktivitasnya.

Bunda ayah…apa yang sudah kita ajarkan kepada mereka dalam sesi yang sangat singkat ?
Kita telah mengajarkan kepada mereka tentang keutamaan menghormati tamu
Kita pun telah mengajarkan kepada mereka tentang keutamaan mengucapkan salam
Kita juga telah mengajarkan kepada mereka untuk berani berinteraksi dengan orang dewasa dan itu sangat membangun kepercayaan diri mereka.

Dan kita pun menjadi tidak terganggu selama bertamu atau menerima tamu. Subhanallah, semakin terasa bagi kita kemulian seorang Muhammad.

http://www.parentingnabawiyah.com/index.php/artikel–keluarga/anak-parenting/78-anak-dengan-sindrom-tamu

Syarat Utama Meraih Cita-cita

Imam Ibnu Qayyim Al Jauziyah dalam kitab Fawaaidul Fawaaid memberikan sebuah nasihat untuk kita semua

المطلب الأعلى موقوف حصوله على همة عالية ونية صحيحة

“Cita-cita yang tinggi tergantung kepada Himmah ‘Aaliyah (keinginan yang mulia) dan Niyyah Shohihah (niat yang baik)”

Imam Ibnu Qayyim menyebutkan syarat pertama keberhasilan meraih cita-cita adalah memiliki  همة عالية (himmah ‘aaliyah) atau علو الهمة (‘uluwwul himmah).

الهمة: هي البا عثمان على الفعل و هي الإرادة والقصد والعزيمة على العمل

Himmah adalah motivasi perbuatan, kemauan, niat dan tekad untuk melakukan sesuatu.

Tetapi untuk mencapai المطلب الأعلى (Cita-cita yang tinggi), misalnya menjadi Ahlul Qur’an wa Hamilur Risalah, dia tidak cukup sekadar punya himmah, tapi harus memiliki همة عالية atau علو الهمة (himmah yang tertinggi).

Apa makna همة عالية atau علو الهمة?
Di dalam kitab Rasaail Al Ishlah :  2/86, Syaikh Muhammad Khudor Husain menjelaskan :

استصغار ما دون النهاية من معا لي الأمور

“Menganggap kecil segala hal selain dari urusan-urusan yang mulia”

Makna himmah inilah yang dimaksud oleh Rasulullah saw :

إن الله تعالى يحب معالي الأمور و أطرافها ويكرهسفسافها

“Sesungguhnya Alloh mencintai urusan-urusan mulia dan terhormat serta membenci urusan-urusan rendah/remeh.” (Shahihul Jami’).

Seseorang yang memiliki cita-cita yang besar tentu tidak akan terpaku pada masalah yang kecil. Begitu pula seseorang yang memiliki cita-cita yang tinggi tidak akan berkutat dengan masalah-masalah yang rendah.

Seorang yang ingin bisa membaca Al Qur’an maka dia harus luangkan waktu dan mencari guru untuk membimbingnya. Begitu pula seorang mu’min yang bertekad menjadi penghafal Al Qur’an maka dia harus bermujahadah mengatasi seluruh musykilat/kesulitan yang menghadang. Baik musykilat dari dalam diri maupun dari luar dirinya.

Jika tekad menghafal masih kalah oleh ngantuk maka jangan harap bisa menghafal 30 juz, mungkin kalau cuma juz 30 sih masih bisa. Jika semangat ziyadah masih kalah oleh malas, bisa dipastikan akan gugur di perjalanan. Jika komitmen murojaah kalah oleh rasa capek, bersiaplah mengulang hafalan lama dari awal kembali. Karena itu Imam Ahmad bin Hambal menasihati kita, “Perangilah penyakit malas yang menghampirimu”.

Jika untuk menjadi penghafal Al Qur’an saja himmahnya sudah pudar, bagaimana meraih cita-cita menjadi Hamilul Qur’an?  ia tentu butuh bukan hanya mujahadah, bukan sekadar bekal indibath/disiplin, tapi ia butuh tadhhiyyah/pengorbanan. Baik pengorbanan perasaan, pengorbanan waktu, tenaga, fikiran bahkan mungkin biaya. Begitu pula di bidang yang lain, apakah menuntut ilmu, bisnis, bekerja dan lainnya.

Pada titik seperti inilah dibutuhkan  همة عالية atau علو الهمة.
Di dalam kitab Shaid Al Khathir, Imam Ibnul Jauzi menegaskan tentang hakikat  همة عالية atau علو الهمة, yaitu :

خروج النفس إلى غاية كملها الممكن لها في العلم و العمل
“Upaya jiwa menggapai puncak kesempurnaan yang mungkin dapat diraihnya dalam urusan ilmu dan amal”

Dalam sirah, kita melihat bagaimana para salafush shaleh mengejar cita-cita besar mereka.  Misalnya Imam Bukhari yang dalam satu malam bisa bangun 16 kali untuk mencatat hafalan yang dia dapatkan.

Begitu pula dengan Imam Ibnu Taimiyyah yang dalam keadaan sakit masih berupaya berdakwah dengan menghasilkan karya di bidang tulisan. Itulah sebabnya untuk seorang mu’min, sakit sekalipun tidak boleh menghalanginya untuk berdakwah dengan media yang memungkinkan agar dia tetap berdakwah. Atau bagi seorang mu’min yang sedang menghafal Qur’an, sakit harus menjadi motivasi dirinya untuk makin bersemangat menghafal Qur’an saat sudah sembuh.

Demikian pula halnya untuk seorang mu’min yang menjadikan pekerjaannya atau bisnisnya sebagai ladang amal shaleh dan ladang dakwah, maka kesulitan pekerjaan, bisnis yang sedang menurun atau kondisi ekonomi yang sedang krisis seperti saat ini tidak akan membuatnya mundur atau putus asa. Tetapi himmah ‘aaliyahnya yang akan membuat dia tahan banting, tawakkal, ridha, serta optimis menjalani pekerjaan atau bisnisnya. Dia memiliki keyakinan akan mampu bangkit kembali justru di tengah keterpurukan saat ini. Contoh tentang pebisnis hebat yang memiliki “himmah ‘aaliyah” diantaranya adalah sahabat Nabi saw yaitu Abdurrahman bin Auf. Karena hijrah, seluruh kekayaannya habis, dia harus memulai kembali bisnisnya dari nol. Tapi dengan “himmah ‘aaliyah” pada akhirnya Abdurrahman bin Auf bisa kembali meraih kejayaan bisnisnya. Itulah keajaiban dan kekuatan “himmah ‘aaliyah atau ‘uluwwul himmah”

Kemudian nasihat kedua Imam Ibnu Qayyim agar kita berhasil meraih cita-cita adalah hendaknya memiliki “Niyyah Shohihah” (niat yang benar)

Punya himmah ‘aaliyah tapi niatnya salah, maka cita-citanya juga akan kandas. Sekalipun berhasil pasti tidak merasa bahagia.

Imam Ibnu Rajab Al Hambali memberikan nasihat bijak, “Siapa yang ikhlas mengejar cita-cita semata karena Alloh, rindu bertemu dengan Alloh, mengharap ridha dan rahmat Alloh, maka Alloh swt akan menolongnya di saat sulit, Alloh swt akan menuntunnya, memudahkan jalannya sehingga dia mendapat kebahagiaan hakiki saat cita-citanya terwujud.

Karena itulah, untuk menjaga keikhlasan hendaklah selalu ingat 3 hal :
1. Berjuanglah untuk akhirat, sehingga kita selalu ridha dengan apapun hasil di dunia setelah ikhtiar dengan maksimal.

2. Jangan salah memilih teman, karena ia akan menjadi penghalang terwujudnya cita-cita atau menjadi pendukung tercapainya cita-cita kita.

3. Bersabar menjalani prosesnya, artinya kita juga harus sabar merubah kebiasaan lama yang tidak mendukung tercapainya cita-cita, serta bersabar untuk memetik buah pada saatnya. karena tak ada hasil terbaik dari suatu produk dan sistem yang instan.

Maka, sebagai penutup risalah ini, saya petik nasihat dari Imam Ibnu Qayyim Al Jauziyah, bahwa :

📖 An Niyyah, Tufridu Lahuth Thoriiq
🔺Artinya, niat akan “menyendirikan jalan”. Maksudnya, niat yang baik akan mempermudah jalan menggapai cita-cita. Dia tidak akan dipalingkan ke jalan yang bisa membelokkan cita-citanya.

📖 Al Himmah, Tufridu Lahul Mathluub
🔺Artinya, tekad akan “menyendirikan yang ia cari”. Maksudnya, jika tekad meraih cita-cita disimpan pada titik paling tinggi, maka tak ada rintangan yang tak mampu diterjang. dia hanya akan fokus kepada tujuan dan bukan pada rintangan.

Jadi, Himmah ‘Aaliyah dan Niyyah Shohihah adalah kunci keberhasilan meraih cita-cita kita, di bidang apapun di dunia. Serta kunci keberhasilan meraih cita-cita akhirat kita.

Hanya kepada Alloh swt kita memohon petunjuk dan pertolongan.

Bandung, 30 Agustus 2015, 22.30 WIB
Ust. Suherman, S.Ag. Al Hafizh
🌺 Hadiah untuk seluruh Santri, Santriwati serta Para Bapak yang Shalih dan Para Ibu Shalihat Murid-murid Tarbiyah yang saya cintai di jalan Alloh 🌺

Gojek

Berikut ini ada tulisan dari seseorang (yang saya belum tahu namanya) yang saya copy.. Semoga menambah wawasan tentang Gojek yang lagi ngehits 🙂

Morning Inspiration

Kenapa Tukang Ojek di Gojek bisa Mendapatkan Income Hingga Rp 10 juta per Bulan?

Sejumlah media menulis kisah yang menggugah. Jika tekun menarik order, seorang tukang ojek di Gojek bisa mendapatkan income hingga Rp 10 juta per bulan.

Sebuan pencapaian yang sangat mengesankan. Terutama untuk profesi yang selama ini dianggap kelas pinggiran.

Kisah tentang Gojek adalah narasi tentang social innovation, keajaiban teknologi aplikasi, dan kejeniusan ilmu supply chain management.

Mari kita bedah satu demi satu dengan renyah di pagi hari ini.

Sejatinya GOJEK adalah perusahaan penyedia jasa transportasi yang berbasis pada kekuatan magis teknologi aplikasi. The power of Apps.

Salah satu sumber inefisiensi layanan tukang ojek adalah masa ngetem yang terlalu lama. Idle time kalau dalam bahasa supply chain management. Waktu kosong yang hilang sia-sia.

Gojek dengan kekuatan aplikasinya yang real time mampu memotong masa tunggu itu (ngetem untuk dapat order) dengan dramatis. Ribuan calon pelanggan yang telah mendownload aplikasi Gojek yang user friendly – dibuat untuk mudah melakukan pemesanan order pengiriman (entah jasa antar orang, dokumen atau barang).

Lantas ribuan order yang terkumpul itu, di-distribusikan oleh Gojek ke ribuan armadanya, yang berada pada titik paling dekat dengan yang memberi order, secara real time, seketika. Proses ini berlangsung secara kontinyu, real time.

Dengan proses sperti itulah, maka level produktivitas pengojek naik secara sangat signifikan. Dengan kekuatan ajaib aplikasi yang bersifat real time, masa tunggu pengojek bisa ditekan hingga nyaris titik nol.

Apa yang terjadi saat produktivitas naik secara dramatis. Otomatis, income juga bisa melesat ke level yang tak terbayangkan.

Just In Time Inventory. Ini adalah prinsip legendaris perusahan-perusahaan hebat Jepang seperti Toyota. Saat masa tunggu inventory bisa dibuat menjadi zero.

Dan persis prinsip seperti itulah yang diterapkan oleh Gojek dengan kekuatan aplikasinya. Hasilnya adalah keajaiban : seorang tukang ojek bisa mendapat income 10 juta per bulan.

Gojek mungkin contoh keindahan inovasi sosial berbasis teknologi : bagaimana kekuatan aplikasi (digital apps) bisa dimanfaatkan untuk memberdayakan ekonomi kaum kelas pinggiran (tukang ojek).

Ya, niatan untuk mengentaskan kemiskinan memang tidak diperoleh dengan demo, spanduk, rapat di gedung parlemen atau teriak-teriak di jalanan. Kekuatan sebuah aplikasi yang jenius acap jauh lebih powerful dari itu semua. This is the beauty of digital technology.

Namun inovasi sosial yang jenius dari Gojek ini mendapatkan tantangan dari dua kekuatan. Dan keduanya bisa menghancurkan bisnis Gojek.

Yang pertama adalah resistensi dari para tukang ojek pangkalan. Ini adalah potret muram dari proses inovasi teknologi : bagaimana kekuatan otak (kemudahan teknologi digital ) harus berhadapan dengan kekuatan otot yang enggan menerima proses perubahan zaman.

Dan kita tahu, pertempuran melawan kekuatan otot acap jauh lebih melelahkan dibanding harus bertarung melawan kekuatan otak.

Proses inovasi teknologi memang kadang justru gagal karena masyarakatnya sendiri secara sosiologis tidak siap menerima perubahan. Fenomena yang juga lazim terjadi dalam berbagai kisah perubahan korporat (corporate transformation process).

Status quo dan comfort zone kadang menjadi dua algojo yang acap sukses menjegal potensi kekuatan inovasi.

Kekuatan kedua yang juga bisa merobohkan bisnis Gojek datang dari rival yang tak kalah menggetarkan. Yakni Grab Bike. Perusahaan yang sama dengan Gojek, namun datang dari pengusaha Malaysia. Dan dengan dukungan modal hingga 2.5 triliun.

Dengan dukungan dana nyaris tak terbatas itu, Grab Bike langsung meletuskan amunisi peperangan. Mereka segera meluncurkan “predatory pricing war” : tarif promosi ojek Grab Bike hanya Rp 5 ribu kemana saja (tarif promosi Gojek 10 ribu, dan kini sudah naik ke 15 ribu).

Grab Bike juga memberikan upah ke pengojeknya 90% dari total order, sementara Gojek hanya 80%. Grab Bike juga memberikan program berangkat umroh kepada pengojeknya yang berprestasi (akhirnya tukang ojek juga bisa naik umroh. Bukan hanya tukang bubur).

Perlawanan keras dari Grab Bike itu segera membuat Gojek agak gentar. Pricing war yang berkepanjangan pada akhirnya bisa membuat keduanya malah bangkrut. Bisnis memang kadang brutal dan tak kenal ampun.

Kita tidak tahu apakah Gojek akan bisa mengatasi perlawanan dari dua dimensi yang berbeda itu dengan sukses (resistensi dari ojek pangkalan dan rivalitas bisnis dengan Grab Bike).

Btw, pendiri Gojek sendiri Nadiem Makarim bukan anak muda sembarangan. Pria muda Jakarta ini alumnus Harvard Business School (sekolah bisnis terbaik di muka bumi).

Dengan mudah Nadiem sebenarnya bisa melamar kerja di Wall Street dengan gaji puluhan ribu dollar per bulan. Namun ia memilih pulang ke tanah airnya, demi membangun bisnis yang memberdayakan kaum kelas pinggiran. Melalui kekuatan aplikasi digital.

Jajaran manajemen dan pendiri Gojek lainnya juga diisi oleh para alumnus dari sekolah bisnis hebat seperti University of Chicago. Dan rata-rata pernah bekerja di perusahaan kelas dunia.

Dari sisi kualitas, SDM yang menduduki peran kunci di Gojek sebenarnya setara dengan mutu SDM di perusaahaan top seperti Google, Microsoft ataupun IBM. Mereka secara kolektif adalah one of the best management brains di tanah air.

Saya sendiri berharap Gojek bisa berhasil dalam misinya. Mereka bertekad untuk merekrut puluhan ribu pengojek baru.

Jika bisnis Gojek berhasil, dampak mereka dalam memberdayakan ekonomi kaum kelas pinggiran bisa sangat mengesankan.

Sekali lagi, itulah kekuatan social innovation yang berbasis pada kekuatan by HBO digital.

Ayah ‘Bisu’

Sebuah tulisan karya Sarah binti Halil bin Dakhilallah al-Muthiri yang ditulis untuk meraih gelar magister di Universitas Umm al-Quro, Mekah, Fakultas Pendidikan, Konsentrasi Pendidikan Islam dan Perbandingan, mungkin bisa menyemangati para ayah untuk rajin berdialog dengan anak-anaknya.

Judul tulisan ilmiah tersebut adalah:

“Dialog orangtua dengan anak dalam al-Qur’an al-Karim dan aplikasi pendidikannya”

Dari judulnya saja, sudah luar biasa. Dan memang luar biasa isinya.

Menurut tulisan ilmiah tersebut, terdapat 17 dialog (berdasarkan tema) antara orangtua dengan anak dalam al-Qur’an yang tersebar dalam 9 Surat.

Ke-17 dialog tersebut dengan rincian sebagai berikut:
• Dialog antara ayah dengan anaknya (14 kali)
• Dialog antara ibu dan anaknya (2 kali)
• Dialog antara kedua orangtua tanpa nama dengan anaknya (1 kali)

Lihatlah ayah, subhanallah…
Ternyata al-Qur’an ingin memberikan pelajaran. Bahwa untuk melahirkan generasi istimewa seperti yang diinginkan oleh Allah dan Rasul-Nya, harus dengan komposisi seperti di atas.

Jika kita bandingkan, ternyata dialog antara ayah dengan anaknya, lebih banyak daripada dialog antara ibu dengan anaknya. Jauh lebih banyak. Lebih sering. 14 banding 2!

Kalau hari ini banyak muncul ayah ‘bisu’ dalam rumah, inilah salah satu yang menyebabkan munculnya banyak masalah dalam pendidikan generasi.

Sebagian ayah seringkali kehabisan tema pembicaraan dengan anak-anaknya. Sebagian lagi hanya mampu bicara dengan tarik urat alias marah.

Ada lagi yang diaaamm saja, hampir tidak bisa dibedakan saat sedang sariawan atau memang tidak bisa bicara.

Sementara sebagian lagi, irit energi; bicara seperlunya. Ada juga seorang ayah yang saat dia belum selesai bicara sang anak bisa menyela, “Cukup yah, saya bisa lanjutkan pembicaraan ayah.” Saking rutinitas pembicaraannya yang hanya basa basi dan itu-itu saja.

Jika begitu keadaan para ayah, maka pantas hasil generasi ini jauh dari yang diharapkan oleh peradaban Islam yang akan datang. Para ayah selayaknya segera memaksakan diri untuk membuka mulutnya, menggerakkan lisannya, terus menyampaikan pesannya, kisahnya dan dialognya.

Ayah, kembali ke al-Qur’an..
Dialog lengkap, utuh dan panjang lebar di dalam al-Qur’an, hanya dialog ayah kepada anaknya. Bukan dialog ibu dengan anaknya. Yaitu dialog Luqman dengan anaknya. Sebuah nasehat yang lebih berharga bagi seorang anak dari semua fasilitas dan tabungan yang diberikan kepadanya.

Dengan kajian di atas, kita terhindar dari kesalahan pemahaman. Salah, jika ada yang memahami bahwa dialog ibu tidak penting. Jelas sangat penting sekali dialog seorang ibu dengan anaknya.

Pemahaman yang benar adalah, al-Qur’an seakan ingin menyeru kepada semua ayah: ayah, harus rajin berdialog dengan anak. Lebih sering dibanding ibu yang sehari-hari bersama buah hati kalian.

Dan…
Jangan sampai menjadi seorang ayah bisu!

BY:Sarah binti Halil bin Dakhilallah al-Muthiri.

Arti Barokah

Barokah adalah kata yg  diinginkan oleh hampir semua hamba yg beriman, karenanya orang akan mendapat limpahan kebaikan dalam hidup.

Barokah bukanlah cukup & mencukupi saja, tapi barokah ialah  ketaatanmu kepada الله dg segala keadaan yg ada, baik berlimpah atau sebaliknya.

Barokah itu: “albarokatu tuziidukum fi thoah” ~ barokah menambah taatmu kepada الله.

Hidup yg barokah bukan hanya sehat, tapi kadang sakit itu justru barokah sebagaimana Nabi Ayyub عليه السلام, sakitnya menambah taatnya kepada الله.

Barokah itu tak selalu panjang umur, ada yg umurnya pendek tapi dahsyat taatnya layaknya Musab ibn Umair.

Tanah yg barokah itu bukan karena subur & panoramanya indah, karena tanah yg tandus seperti Makkah punya keutamaan di hadapan الله tiada yg menandingi.

Makanan barokah itu bukan yg komposisi gizinya lengkap, tapi makanan itu mampu mendorong pemakannya menjadi lebih taat setelah makan.

Ilmu yg barokah itu bukan yg banyak riwayat & catatan kakinya, tapi yg barokah ialah yg mampu menjadikan seorang meneteskan keringat & darahnya dalam beramal & berjuang untuk agama الله.

Penghasilan barokah juga bukan gaji yg besar & bertambah, tapi sejauh mana ia bisa jadi jalan rizqi bagi yg lainnya & semakin banyak orang yg terbantu dg penghasilan tersebut.

Anak² yg barokah bukanlah saat kecil mereka lucu & imut atau setelah dewasa mereka sukses bergelar & mempunyai pekerjaan & jabatan hebat, tapi anak yg barokah ialah yg senantiasa taat kepada Rabb-Nya & kelak di antara mereka ada yg lebih shalih & tak henti²nya mendo’akan kedua Orang tuanya.

Semoga segala aktifitas kita hari ini  barokah بَارَكَ اللهُ فِيْك

  Barang siapa yg mengajarkan satu ilmu dan org tsb mengamalkannya maka pahala bagi org yg memberikan ilmu tsb tanpa mengurangi pahala org yg mengamalkan ilmu tsb.(HR.Bukhori Muslim)

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

Atas ↑

Move the world

@Farissaffan

Refleksi Panggilan Jiwa

Mari Kita Buat Indonesia Tersenyum

Departemen Pengembangan Usaha DPP PKS

Indonesia Maju Bersama Pengusaha PKS

.:METAMORPHOSA:.

Melintas batas peradaban, merangkum hikmah pengembaraan, menginspirasi setiap relung kehidupan..