Dulu waktu aku dinyatakan lulus untuk masuk SMA yang (katanya) terbaik di Indonesia ini,aku merasa bersyukur. Ya,hanya bersyukur dan rasanya tidak ada perasaan lain ketika itu.

Tiga tahun aku lalui di lembah Tidar bersama teman2 seangkatan, TN17.  Beberapa amanah, pengalaman, dan cerita memberi pelajaran untuk diri ini.

Namun, setelah lulus daru SMA itu, muncul suatu rasa di mana rasa penyesalan menggelayuti pikiranku. Aku berpikir kenapa mau saja aku diterima masuk ke SMA yang melarang siswi putrinya untuk berjilbab. Kok bisa-bisanya sekolah yang (katanya) terbaik di Indonesia melarang siswi putrinya untuk melaksanakan kewajiban yang diperintahkan Tuhannya?

Aku kemudian melihat teman2 sekampus di sekelilingku. Beruntung mereka yang sudah menutup aurat secara sempurna semenjak mereka baligh. Lalu diri ini merasa semakin berlumuran dosa.

Meskipun saat ini aku sudah berjilbab, rasa penyesalan itu tetap ada. Tapi aku tetap harus mensyukuri nikmat Allah yang telah diberikan kepadaku. Dengan aku pernah bersekolah di SMA itu, aku sepatutnya dapat menyebarkan nilai-nilai Islam di SMA tersebut. Aku sepatutnya mengusahakan agar penggunaan jilbab tidak lagi dilarang di SMA tersebut.

Ya,aku perlu mengusahakan hal-hal tersebut. Menegakkan nilai-nilai Islam di bumi SMA Taruna Nusantara. Sebagai rasa syukur kepada Allah yang telah mengizinkan aku belajar banyak hal di sana. Juga aku berharap hal itu sebagai penggugur dosa atas dosa-dosa yang aku lakukan selama ini,terutama saat belum menutup aurat di waktu yang semestinya.

Iklan